Antara Virus Wuhan dan Wahn: Mana Lebih Berbahaya?

Kerugian dari virus wahn tidak hanya berdampat fisik dan materi, tapi juga peradaban. Tidak hanya dunia, tapi juga akherat

Hidayatullah.com | VIRUS Corona atau Covid-19, awalnya menjadi pusat perhatian masyarakat dunia pasca tanggal 20 Januari 2020 di mana pada saat itu, otoritas kesehatan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, mengabarkan bahwa tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut.

Sampai detik ini (17/04/2020) dikabarkan bahwa lebih dari 2 juta orang telah terinfeksi virus corona. Dari data itu, setidaknya ada 547.207 sembuh. Sedangkan yang meninggal mencapai 145.516 jiwa. Sampai detik ini obatnya belum ditemukan dan penyebarannya begitu dahsyat.

Akibat virus ini dunia sangat gempar. Para pebisnis banyak yang rugi, negara-negara banyak yang lockdown, masing-masing berusaha untuk menyelamatkan diri dari pandemi ini. Bahkan, banyak aktivitas ibadah dari berbagai agama yang sifatnya kolektif terpaksa dihentikan. Lebih dari itu, virus ini juga menyisakan efek spiritual berupa rasa takut yang mencekam.

Dalam masalah efek takut mati akibat virus corona yang timbul dari Wuhan ini, Nabi pernah menyebut virus yang tidak kalah lebih bahanya dibanding virus asal Wuhan, yaitu wahn.

Virus ini menimpa umat Islam di saat jumlahnya banyak, tapi tidak berkualitas, bagaikan buih di lautan. Akibat virus ini mereka menjadi rebutan bangsa-bangsa laiknya orang merebutkan makanan dalam meja hidangan.

Apa yang dimaksud dengan wahn? Sabda Nabi:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا» ، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ» ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata: “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Virus wahn adalah kondisi internal kejiwaan umat Islam berupa cinta dunia dan takut mati. Ketika umat Islam sudah mulai mencintai dunia dengan segala pernak-perniknya, kemudian disusul dengan virus mematikan lain yaitu: takut mati.

Khusus terkait pertanyaan mengenai virus wahn, Ath-Thiby —dalam Mirqaat al-Mafaatiih (VIII/3366) menjelaskan bahwa: “(Ini) merupakan pertanyaan tentang macam wahn atau seakan-akan ingin mengetahui dari sisi mana wahn itu terjadi. Jawabannya adalah: Cinta dunia dan Takut Mati. Keduanya saling terkait dan seakan-akan memang jadi satu yang mendorong mereka mendapat pemberian yang hina dari musuh yang nyata.”

Dari kedua virus tadi, yaitu: virus Wuhan dan Wahn, manakah yang lebih berbahaya? Tulisan ini mencoba untuk membandingkannya disertai penjelasan sisi perbedaan dan persamaannya.

Dari sisi persamaannya, kedua virus ini sama-sama menimbulkan efek takut mati. Takut kehilangan dunia dan berbagai rasa takut yang lainnya. Kemudian, persamaan lain adalah dari segi skala. Baik virus Wuhan atau Wahn memiliki dampak yang berskala besar sehingga disebut pandemi. Selain itu, masing-masing dari virus ini sama-sama tidak terlihat dengan kasat mata. Tetapi daya rusaknya luar biasa.

Persamaan lain adalah akibat rasa takut yang ditimbulkan oleh kedua virus ini adalah akan menodai tauhid kepada Allah. Maksudnya, dalam Islam seharusnya yang ditakuti adalah Allah, jika yang ditakuti adalah kematian an sich (itu sendiri) maka jelas menodai tauhid.

Ini mirip kejadian pada ayat berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu” , kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 243).

Syeikh As-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengisahkan orang yang lari dari kematian akibat wabah atau semacamnya. Akhirnya, mereka dimatikan oleh Allah sebagai pelajaran. Karena memang sesungguhnya yang Menghidupkan dan Mematikan hanyalah Allah Subhanahu wata’ala. Adapun kehidupan dan kematian adalah makhluk Allah Ta’ala.

Adapun perbedaannya, yang diserang oleh virus wuhan adalah fisik seseorang sampai pada tingkat yang paling parah adalah kematian. Sedangkan virus wahn tidak demikian. Yang diserang wahn adalah jiwa dan hati orang muslim. Ketika mereka sudah cinta terhadap dunia dan diikuti takut kepada kematian, bisa jadi fisiknya masih hidup, tapi jiwa dan hatinya bisa mati. Orientasi hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dunia, dan memiliki rasa takut yang sangat tinggi ketika harta dunianya lenyap atau mati fisiknya karena baginya hidup sejati hanyalah dunia.

Hari ini kita menyaksikan ratusan ribu orang jadi korban ‘virus wuhan’. Termasuk kematian dan kerugian-kerugian duniawi. Tapi tetaplah ingat, jika virus wahn yang melanda, ini bisa mengakibatkan kerugian skala global bagi muslim baik dunia maupu akhirat.

Berkaca pada sejarah panjang umat Islam hingga di level peradaban, mereka akan jatuh terhina ketika dijangkiti virus wahn. Dan ketika umat Islam jatuh dalam skala peradaban, menurut istilah Syekh Abu Hasan An-Nadawy.

Dari perbandingan ini, jelaslah bahwa virus wahn lebih berbahaya daripada virus wuhan meski ada juga sisi persamaannya. Walau begitu, bagi umat Islam, keduanya perlu diwaspadai dan butuh ikhtiar agar bisa terhindar dari keduanya tanpa mengurangi kepercayaan kepada takdir dan ketentuan Allah Ta’ala. Sebab, ketika muslim berikhtiar untuk memproteksi diri dari penyakit, itu bukan berarti takut kepada penyakit melebihi takut kepada Allah. Tapi, itu adalah salah bentuk tawakkal yang disertai ikhtiar yang dibolehkan oleh Allah Ta’ala./*Mahmud Budi Setiawan

 



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *