Atasi Corona dengan Bertauhid yang Sempurna (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Atasi Corona dengan Bertauhid yang Sempurna (Bag. 2)

Makna melaksanakan tauhid dengan sempurna (tahqiiqut tauhiid)

Syaikh Shalih Alusy-Syaikh hafizhahullah, di dalam kitabnya, At-Tamhiid, yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Tauhid itu, telah menjelaskan tentang definisi tahqiiqut tauhiid (pelaksanaan tauhid dengan sempurna).

Beliau menjelaskan bahwa tahqiiqut tauhiid terbagi menjadi dua tingkatan. Beliau mengatakan,

“Maka tahqiiqut tauhiid meliputi dua tingkatan, yaitu tingkatan wajib dan tingkatan mustahab (sunnah). Dengan demikian, orang-orang yang melaksanakan tauhid dengan sempurna meliputi dua tingkatan ini pula.”

Tingkatan wajib dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna

Syaikh Shalih Alusy-Syaikh hafizhahullah mengatakan,

“Tingkatan yang wajib adalah meninggalkan sesuatu yang wajib ditinggalkan berupa tiga perkara yang telah disebutkan sebelumnya. (Dengan demikian tingkatan wajib itu) adalah dengan meninggalkan syirik -baik syirik yang samar maupun yang tampak jelas, syirik kecil maupun syirik besar, meninggalkan bid’ah, dan meninggalkan maksiat.”

Atau dengan kata lain, tahqiiqut tauhiid pada tingkatan yang wajib adalah membersihkan agama seseorang dari seluruh dosa, baik dosa syirik, bid’ah maupun kemaksiatan, dengan segala macamnya.

Apakah maksud “bersih dari dosa”?

Berdasarkan penjelasan di atas, inti dari tahqiiqut tauhiid pada tingkatan yang wajib adalah bersih dari segala dosa dengan segala macamnya. Sedangkan maksud bersih dari dosa dengan segala macamnya (syirik, bid’ah dan maksiat) adalah (1) seorang hamba meninggal dalam keadaan sudah bertaubat dari seluruh dosa; atau (2) dosanya sudah terlebur dengan pelebur (mukaffirat) dosa.

Jadi, yang dijadikan patokan di sini adalah akhir hidup seseorang, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَإِنَّمَا الَأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ

“Sesungguhnya amalan itu hanyalah berdasarkan penutupnya.” (HR. Bukhari)

Syaikh Shalih Alusy-Syaikh hafizhahullah mengatakan, 

“Barangsiapa yang melakukan sesuatu kemaksiatan, dosa, atau bid’ah, kemudian belum bertaubat darinya, atau belum terlebur dosanya, maka ia belumlah dikatakan telah melaksanakan tauhid secara sempurna, yaitu jenis tingkatan wajib.”

Hal ini menunjukkan bahwa

العبرة بكمال النهاية ، لا بنقصان البداية

“Yang dijadikan patokan adalah kesempurnaan pada akhir kehidupan dan bukan pada kekurangan di awal kehidupan.” [1]

Kesimpulan tingkatan wajib dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna:

“Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang yang bersih dari dosa, dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perkara haram.”

Baca Juga: Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidak akan Bernilai

Tingkatan sunnah (mustahab) dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna

Syaikh Shalih Alusy-Syaikh hafizhahullah mengatakan,

“Tingkatan mustahab dalam tahqiiqut tauhiid -sebuah tingkatan yang pelakunya berbeda-beda keutamaannya- dengan perbedaan yang besar, yaitu:

Tidak adanya pada hati seseorang suatu arah atau tujuan kepada selain Allah Jalla wa ‘Alaa. Maksudnya adalah hati menghadap kepada Allah secara totalitas, tidak terdapat kecondongan kepada selain Allah, sehingga (jika) berucap, (ikhlas) karena Allah. Jika bertingkah laku, (ikhlas) karena Allah. Jika beramal, (ikhlas) karena Allah. Bahkan seluruh gerakan hatinya karena Allah.”

Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama mengungkapkan tingkatan mustahab ini dengan,

“Meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apa (mubah) karena khawatir (berakibat) ada apa-apanya (jika dilakukan).” 

Maksudnya di sini adalah mencakup amal hati, lisan, dan anggota tubuh lahiriyyah.

Kesimpulan tingkatan sunnah dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna:

“Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang yang melaksanakan perkara yang wajib dan yang sunnah serta meninggalkan keharaman, kemakruhan dan sebagian perkara yang mubah (halal).”

Demikianlah Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid, ketika beliau menjelaskan tentang golongan As-Saabiquun bil khairaat,

“Golongan yang selamat dari syirik besar dan kecil, bid’ah, serta (golongan yang) meninggalkan keharaman dan kemakruhan serta sebagian perkara yang mubah (halal). (Di sisi lain) mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal ketaatan, baik amal yang wajib maupun yang sunnah. Mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (As-Saabiqun bil khairaat). Barangsiapa yang sampai pada tingkatan ini, maka ia masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.”

Baca Juga: Tahap-Tahap dalam Mempelajari Ilmu Tauhid

Pelaksanaan tauhid dengan sempurna hakikatnya adalah pelaksanaan syahadatain

Syaikh Shalih Alusy-Syaikh hafizhahullah, di dalam kitab At-Tamhiid tersebut menjelaskan hal itu sebagai berikut,

“Pelaksanaan tauhid dengan sempurna, hakikatnya adalah pelaksanaan syahadatain ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah’. Karena pada ucapan seorang ahli tauhid ‘laa ilaaha illallaah’, terdapat tuntutan pelaksanaan tauhid dan jauh dari syirik, dengan segala macamnya. Dan karena pada ucapannya ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’ mengandung tuntutan jauh dari kemaksiatan dan bid’ah. Hal itu disebabkan karena konsekuensi syahadat “Muhammadar Rasulullah” adalah ‘Beliau ditaati dalam perkara yang beliau perintahkan, dibenarkan dalam perkara yang beliau kabarkan, dijauhi larangannya, dan tidaklah menyembah Allah melainkan dengan syari’at yang diajarkannya.” (At-Tamhiid: 33)

Kesimpulan tentang gambaran ahli tauhid yang sempurna

Melaksanakan tauhid dengan sempurna itu bukan hanya seorang hamba perhatian kepada menjauhi syirik dengan segala macamnya, namun tauhidnya yang sempurna itu menuntutnya untuk meninggalkan keharaman, kemakruhan, dan sebagian perkara yang mubah (halal). Ini semua sebagai bentuk pelaksanaan syahadatain ‘laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah’, yaitu ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh aktifitas seorang hamba. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah dan suri teladan terbaik dalam segala hal.

Ahli tauhid yang sempurna inilah yang mendapatkan keamanan dan petunjuk yang sempurna pula, di dunia maupun di akhirat, sebagaimana telah dijelaskan pada seri artikel yang sebelumnya.

Baca Juga:

(Bersambung)

***

Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah

Artikel: Muslim.or.id

 

Referensi:

[1] Ucapan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *