/Kenapa Nabi Nuh dan Luth Bisa Mendapat Istri yang Khianat?

Kenapa Nabi Nuh dan Luth Bisa Mendapat Istri yang Khianat?

Sebagaimana dalam penjelasan sebelumnya istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth itu khianat dalam hal agama. Bukankah harusnya laki-laki yang baik mendapatkan perempuan yang baik? Kenapa keadaan Nabi Nuh dan Luth berbeda?

 

Dalam ayat disebutkan,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nuur: 26)

 

 

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi menjelaskan tentang hal ini:

  1. Laki-laki saleh tetap mencari perempuan yang salehah namun bisa jadi ia dikhianati. Jadi secara lahiriyah ia salehah, akan tetapi hatinya kafir, munafik, wal ‘iyadzu billah. Itulah kenapa disebut dalam surah At-Tahrim, kedua istrinya berkhianat.
  2. Bisa jadi Nabi Nuh dan Nabi Luth menikah dengan istrinya sebelum diangkat menjadi nabi. Sebelum diangkat menjadi Nabi, kedua istrinya tersebut telah kafir. Dahulu laki-laki muslim masih boleh menikahi wanita kafir, syariat ini masih berlaku sebelum Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Terkhusus lagi yang dimaksud khianat di sini adalah khianat dalam hal agama, bukan khianat yang kaitannya dengan urusan ranjang. Karena menurut jumhur (mayoritas) pakar tafsir, istri para nabi tidaklah mungkin berkhianat dalam masalah ranjang.
  3. Bisa jadi makna surah An-Nuur ayat 26 adalah kalimat yang thayyib (yang baik) hanya keluar dari orang-orang yang thayyib (yang baik).

 

Lihat penjelasan dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil Juz’u Qad Sami’a, hlm. 379 dan At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil Surah An-Nuur, hlm. 142-143.

 


 

Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel sebelumnyaSyarhus Sunnah: ‘Arsy Allah, Makhluk Paling Tinggi dan Paling Besar

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.



Sumber