/Khutbah Jumat Kemerdekaan, Mensyukuri Nikmat Merdeka

Khutbah Jumat Kemerdekaan, Mensyukuri Nikmat Merdeka

khutbah jumat kemerdekaan
ilustrasi (Pinterest)


Masih dalam suasana peringatan HUT kemerdekaan RI ke-74, khutbah jumat kali ini mengambil tema Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan. Semoga khutbah Jumat kemerdekaan ini bermanfaat.

Khutbah Pertama dari Khutbah Jumat Kemerdekaan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ
نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا
وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا
سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat banyak. Allah memberikan kita kesehatan, umur panjang, kesempatan, dan yang paling utama adalah nikmat iman dan Islam. Termasuk nikmat besar, kita hidup di alam kemerdekaan. 74 tahun sudah kita merdeka dari penjajahan.

Nikmat kemerdekaan ini perlu untuk kita syukuri. Sebab dengan
syukur itulah, Allah akan mendatangkan keberkahan dan menambah nikmat-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih”.
(QS. Ibrahim: 7)

Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini?

1. Menyadari kemerdekaan adalah nikmat dari Allah

Pertama, kita perlu menyadari bahwa kemerdekaan ini
adalah nikmat dari Allah. Bahkan termasuk nikmat yang besar. Bagaimana tidak,
dalam kondisi terjajah, masyarakat muslim akan sulit untuk melaksanakan ibadah
kepada Allah. Bahkan merasa tidak aman dalam menjalani kehidupan. Apalagi kehidupan
sesuai dengan tuntunan Islam.

Para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini menyadari
sepenuhnya bahwa kemerdekaan ini adalah nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sehingga dicantumkanlah pengakuan ini dalam pembukaan UUD 1945.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan
didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini menyadari
sepenuhnya, memang mereka berjuang bahkan mengorbankan nyawa, namun yang Kuasa menganugerahkan
kemerdekaan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat dari Allah,
memudahkan kita untuk mensyukurinya. Sebagaimana Nabi Sulaiman memandang
kekuasaan yang Allah berikan kepadanya.

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي
أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah
aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang
bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan
barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia”.
(QS. An Naml: 40)

Baca juga: Keutamaan Surat Al Kahfi

2. Beriman dan Bertaqwa kepada Allah

Jamaah Jumat hafidhakumullah. Mensyukuri nikmat
kemerdekaan ini, setiap muslim harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat, masyarakat
akan selamat dari berbagai tipuan dunia yang menghancurkan. Mulai dari
keyakinan yang melemahkan seperti syirik, khurafat dan tahayul. Hingga kriminalitas
dan kejahatan moral seperti korupsi, minuman keras, narkoba dan perzinaan.

Dengan keimanan dan ketaqwaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan menganugerahkan keberkahan di negeri kita. Ini merupakan janji Allah yang
pasti dan menjadi keniscayaan.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.
(QS. Al A’raf: 96)

3. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Mensyukuri nikmat kemerdekaan, setiap muslim haruslah
memiliki jiwa amar ma’ruf nahi munkar. Gunakan kemerdekaan itu untuk
menciptakan sebuah kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan semaksimal mungkin
menekan kemungkaran.

Agar masyarakat damai, dipenuhi nilai-nilai kebaikan,
diwarnai dengan indahnya persaudaraan. Jangan sampai dibiarkan munculnya
kemungkaran-kemungkaran yang menjatuhkan fitrah dan derajat kemanusiaan,
menzalimin orang lain dan mendatangkan kemurkaan Allah. Sang Pemberi
kemerdekaan.

Bangsa yang merdeka, haruslah menebarkan kebaikan untuk
seluruh rakyatnya. Sehingga mereka merasa aman dan merdeka menjalankan
kebenaran. Bangsa yang merdeka, juga harus memiliki kekuatan untuk mencegar
terjadinya kezaliman dan kemungkaran.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ
أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan.
(QS. Al Hajj: 41)

4. Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan

Jamaah Jumat rahimakumullah. Mensyukuri nikmat
kemerdekaan, sebuah bangsa harus mengisinya dengan pembangunan. Memakmurkan bumi
sebagaimana peran manusia sebagai khalifatullah. Membangun untuk
meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Membangun dengan adil
agar semua warga merasa sejahtera.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai sebuah bangsa
yang merdeka serta para pemimpin yang berkuasa namun justru melakukan kerusakan
di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ
تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan
membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
(QS.
Muhammad: 22)

5. Mengundang Rahmat Allah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah. Para pejuang
kemerdekaan dan pendiri bangsa Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan
ini adalah rahmat dari Allah. Maka mengisi kemerdekaan, seharusnya juga melanjutkan
kesadaran itu dengan mengundang rahmat Allah berikutnya.

Bagaimana caranya? Dengan melakukan amal-amal yang
mendatangkan rahmat Allah, juga berdoa memohon rahmat-Nya.

Di antaranya adalah membiasakan shalat berjamaah dan memakmurkan masjid. Termasuk juga sholat Jumat seperti sekarang ini. Setiap kali masuk masjid kita dianjurkan berdoa:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmatMu untukku.”
(HR. Muslim)

Masuk masjid dan memakmurkannya adalah amalan
mendatangkan rahmat Allah. Saat masuk masjid kita juga memohon rahmat Allah.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Baca juga: Amal Muslimah di Hari Jumat

Khutbah Kedua dari Khutbah Jumat Kemerdekaan

الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Semoga dengan mengamalkan lima poin mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, Allah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya untuk negeri kita. Bangsa Indonesia. Menjadikan negeri ini penuh kebaikan dan keberkahan, serta mendapat ampunan-Nya. Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

Mara marilah di akhir khutbah kedua ini kita berdoa
memohon ampunan Allah, keberkahan dan kebaikan dunia serta kebaikan akhirat.

إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ
مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ
إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ
رَحِيمٌ

رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ
رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jumat Kemerdekaan edisi Agustus 2019; BersamaDakwah]

Sumber