Penting, Memperkenalkan Pengetahuan Gizi kepada Anak Sejak Dini

Kata Prof Ali, anak yang tidak memiliki pengetahuan tentang keseimbangan asupan gizi ketika mengkonsumsi sesuatu bisa mengakibatkan obesitas atau berat badan berlebih

Penting, Memperkenalkan Pengetahuan Gizi kepada Anak Sejak Dini

abdul mansur j/hidayatullah.com

Anak Anak Kampung Pulo, Jakarta Timur, membeli jajanan saat banjir pada Kamis (02/01/2020) pukul 10.00 WIB.

Hidayatullah.com– Solusi jangka panjang mengatasi persoalan gizi di Indonesia harus dimulai dari ranah pendidikan. Artinya, sejak tahapan pendidikan Paud, anak-anak sudah dikenalkan secara perlahan dan berjenjang hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Demikian menurut pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Ali Khomsan. Ia mengatakan, pengetahuan tentang gizi seharusnya sudah diajarkan secara bertahap kepada anak-anak sejak mereka usia dini.

“Ini penting, karena sejak dini mereka sudah harus dikenalkan soal gizi,” ujar Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB ini kutip Antaranews di Jakarta, Rabu (22/01/2020).

Prof Ali menilai, hal itu bisa menjadi perubahan perilaku seseorang yang bersumber pada bagusnya pengetahuan tentang gizi di kalangan anak-anak, remaja hingga dewasa melalui kurikulum.

Menurut Prof Ali, saat ini materi atau muatan tentang gizi dalam pendidikan hanya menjadi sisipan-sisipan dari mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjaskes), Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diberikan sekolah.

Padahal, muatan atau materi terkait gizi penting untuk diberikan kepada anak didik, sebab bersinggungan langsung pada kehidupan sehari-hari. Kalau anak-anak tidak mempunyai pemahaman lebih, dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Sebagai contoh, anak yang tidak memiliki pengetahuan tentang keseimbangan asupan gizi ketika mengkonsumsi sesuatu bisa mengakibatkan obesitas atau berat badan berlebih. “Itu bisa terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang gizi yang dihadapi anak-anak sejak dini karena kurikulumnya tidak ada di sekolah,” sebut Prof Ali.

Disebutkan bahwa dalam praktiknya, pendidikan yang bersinggungan langsung dengan gizi itu belum terlalu diajarkan atau diterapkan secara maksimal oleh masing-masing satuan pendidikan.

“Ini yang belum cukup dilakukan, karena pelajaran PKK itu sudah tidak ada,” sebutnya.

Prof Ali pun menilai, pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu menyikapi persoalan gizi tersebut kalau memang serius ingin menyelesaikan masalah gizi di Indonesia.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *