Raffles, Freemason, dan Sikapnya Terhadap Islam

Hidayatullah.com | TOKOH penting selain Snouck Hurgronye (1857-1936), K.F Holle  (1826-1886),  G.AJ Hazeu (1870-1829), dan Hendrik Kraemer (1888-1965) dalam kontak dan konflik Islam vs Kolonial di Indonesia, sebagaimana ditulis oleh Karel Steenbrink dalam buku “Dutch Colonialism and Indonesia Islam: Contact and Conflik: 1596: 1950” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1995 dengan judul “Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam: 1596-1942”, adalah Thomas Stamford Raffles (1781-1826).

Raffles lahir di Port Moran, Jamaica 5 Juli 1781. Meski bukan orang Belanda dan pada usia 15 tahun bertugas sebagai Serikat Dagang Hindia Timur Britania (British East India Company), namun Steenbrink menyebut nama Raffles dan mengulas kiprahnya terkait sikap kolonial terhadap Islam, yang tak jauh berbeda dengan sikap para orientalis dan Missionaris Belanda dibatas.

Raffles yang pada tahun 1811-1816 bertugas sebagai penguasa kolonial di Jawa, juga banyak melakukan penelitian tentang sikap hidup, keagamaan, peninggalan-peminggalsn kuno di Jawa, flora dan fauna,  dan kesenian dan kebudayaan orang Jawa. Bahkan, Raffles mengklaim lebih banyak menguasai tentang seluk beluk orang Jawa dan segala hal terkait tentang mereka, dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.

Pada tahun 1817, Raffles menulis satu buku tebal yang menjadi magnum opus-nya berjudul “History of Java”. Dalam buku tersebut, di antaranya ketika membicarakan tentang kesusasteraan Islam, Raffles hanya menulis satu halaman yang mengutip tentang syair Islam. Itu pun syair yang sangat singkat. Tetapi ia menyediakan 47 halaman untuk syair kepahlawanan Mahabrata. Dalam pembahasan tentang agama, tulis Steenbrink, ia hanya membahas tentang  Islam dalam empat halaman, namun menghabiskan 60 halaman untuk membicarakan peninggalan Hindhuisme dan Budhisme. “Kebijakan Raffles tidak pro Islam,” tulis Steenbrink. (Lihat: Steenbrink, 1995: 77-99)

Dalam bidang politik, Raffles berpandangan bahwa orang-orang di negeri ini  yang telah melaksanakan ibadah haji sebagai musuh paling besar bagi setiap rezim kolonial. Raffles dengan tegas menyatakan, putra-putri Bupati yang telah menunaikan ibadah haji ke Makkah tidak layak menduduki jabatan administratif. (Steenbrink:1995: 99-100).

Raffles menyatakan bahwa orang-orang yang pergi haji, yang kemudian menjadi para ulama sepulangnya dari beribadah dan menimba ilmu di Makkah, di masyarakat dipandang keramat dan kharismatik, sehingga mampu menggerakkan pemberontakan. Di setiap ada pemberontakan terhadap kolonial, maka kata Raffles, ada peran ulama di situ. Bahkan, para ulama dan orang-orang Arab di Hindia Timur menurut Raffles adalah kelompok yang selalu menghasut agar memusuhi orang Eropa yang disebutnya kafir. Karenanya, mereka harus diwaspadai. (Lihat: Mr. Hamid Al-Ghadri, C. Snouck Hurgronye: Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab, Jakarta: Sinar Harapan, 1984, hlm. 29)

Ketika bertugas di Sumatera Barat,  dalam pertikaian antara kaum adat dan kaum paderi, Raffles berpihak kepada kaum adat dan menyokong mereka dalam menghadapi para pemimpin Islam yang disebut kaum paderi. Sebagaimana diketahui, konflik ini juga menyebabkan terjadinya kontak fisik antar dua kelompok tersebut.

Siapa Raffles sesungguhnya? Dalam daftar nama orang-orang Freemason (Vrijmetselaarij) di Hindia Belanda tahun 1760-1860 yang ditulis oleh Dr. Dirk de Visser Smith, Raffles tercatat sebagai anggota Freemason pada tahun 1813. (Dirk de Visser Smith, Vrijmetselaarij: Geschiedenis Maatschapalijke be Teekenis en Doel, Soerabaia: Druk Van G.C.T Van Foto & Co., 1931 hlm. 306,  dalam bab “Naam Lijs van de Vrijmetselaarij 1760 tot 1860)

Bisa jadi, tahun 1813, dimana Raffles mendapati kenaikan tingkat sebagai anggota Freemason di Loge de Vriendschap (Loge Persaudaraan) yang terletak di Jl. Tunjungan, Surabaya, menjadi rujukan tahun keanggotaan Raffles, sebagaimana juga tertulis dalam buku “These Men Where Masons” yang ditulis oleh Hubert S Banner.

Pada 5 Juli 1813, saat Belanda takluk pada Inggris dan menyerahkan kekuasaannya,  Raffles datang ke Loge itu untuk mengadakan pertemuan darurat dan kenaikan pangkat sebagai anggota Freemason. Saat itu, Loge De Vriendschap dipimpin oleh P. Jansen dan Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal. (Banner: 1934: 172)

Sementara dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia: 1764-1962” yang ditulis oleh Dr. Th Steven, Raffles menjadi anggota Freemason di Loge Excelsior, Bogor, pada tahun yang sama sebagaimana disebutkan oleh de Visser Smith. Keterangan lain soal Raffles dan keterkaitannya dengan Freemason disebutkan oleh David Harrison, seorang sejarawan anggota Freemason, yang menyebut bahwa Raffles menjadi anggota Freemason di Loge Virtuis et Amici Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1812. (https://dr-david-harrison.com/freemasonry/sir-thomas-stamford-raffles-and-freemasonry/).

Pada tahun 1778, Jacobus Cornelis Mattieu (.J.C.M) Radermacher, tokoh yang pertama kali mendirikan Loge Freemason di Batavia, menggagas berdirinya “Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen” (the Batavia Society of Art and Science/Perkumpulan Masyarakat Batavia untuk Ilmu Pengetahuan dan Kesenian) yang mencontoh “Dutch Society of Sciences Haarlem” di Belanda.

Lembaga yang digagas oleh Radermaacher di Batavia, mendapat persetujuan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Reiner de Klerk, seorang Freemason yang juga mertuanya sendiri. Atas perintah de Klerk, para  pegawai Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) diminta bergabung dalam perkumpulan ini. Sejarawan Belanda F. Dr Haan dalam buku “Oud Batavia” menyebut perkumpulan ini sangat kental dengan corak Freemason. (Lihat: De Haan, 1935: 649).

Awalnya perkumpulan ini menjadikan rumah Radermacher di Kali Besar, Batavia, sebagai markasnya.  Kemudian, setelah perkumpulan ini beralih di bawah kepemipinan Raffles dan diganti dengan nama “the Batavia Literary Society”, markas perkumpulan ini dipindahkan ke Jalan Majapahit, tempat yang kemudian menjadi Gedung Arsip Negara.

Pada tahun 1862, ketika Inggris menyerahkan kekuasaannya ke Belanda, gedung perhimpunan ini dipindahkan ke Jalan Merdeka Barat 12 (Koningsplein West. 12), yang sekarang menjadi gedung Museum Nasional atau disebut juga Museum Gajah. Pada masa selanjutnya, di era Soekarno, tahun 1950, perkumpulan ini berubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Di tempat ini berbagai peninggalan kuno, dokumen-dokumen, dan buku-buku tua dikumpulkan.

Raffles selanjutnya pergi dari Hindia Timur dan mendirikan pos perdagangan di ujung selatan semenanjung Malaya. Di tempat ini Raffles menemukan sebuah perkampungan Melayu di Pulau Tumasik, tempat yang sekarang menjadi negara Singapura.* Artawijaya

Referensi:

✓ Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam: 1596-1942, Bandung: Mizan, 1995

✓ Demitrius Charles Boulger, The Life of Sir Thomas Stanford Raffles, London: Herace Marshal & Son, 1897

✓ Dr. Dirk de Visser Smith, Vrijmetselaarij: Greschidenis Maatschapalijke be Teekenis en Doel, Soerabaia: Drukerij G.C.T Van Dorp &Co, 1931

✓ Hubert S Banner, These Men Were Masons, Chapman and Hall Ltd, 1834

✓ Dr. F. Dee Han, Oud Batavia, Bandoeng: A.C. NIX& Co., 1935

✓ Mr. Hamid Al-Gadri, C. Snouck Hurgronje: Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab, Jakarta: Sinar Harapan, 2004

✓ Jean Helman Taylor, Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur (ter.), Jakarta: Masup: 2009

Sebagian besar tulisan ini ada di buku: Artawijaya, Freemason dan Teosofi: Hubungannya dengan Elite Modern di Indonesia, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2019. *Pemesanan: 081808508064

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *