Tsalatsatul Ushul: Mengenal Tiga Landasan Utama (Mengenal Allah, Islam, Nabi Muhammad)

Kita biasa mendengar tiga landasan utama atau tsalatsatul ushul. Apa sih yang dimaksud?

 

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Tsalatsah Al-Ushul berkata,

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: مَا الأُصُولُ الثَّلَاثَةُ التِّي يَجِبُ عَلَى الإِنسَانِ مَعرِفَتُهَا؟

فَقُل: مَعرِفَةُ العَبدِ رَبَّهُ، وَدِينَهُ، وَنَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ.

Lalu jika ditanyakan kepadamu, “Apakah tiga hal pokok yang wajib bagi manusia untuk mengetahuinya?” Jawablah, “Pengetahuan hamba terhadap Rabbnya, agamanya, dan Nabinya, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Penjelasan

Apa itu ushul?

Al-Ushul adalah bentul plural dari Al-Ashlu artinya pondasi atau landasan, di mana yang lain dibangun di atasnya. Hal ini sama dengan pondasi tembok atau bangunan. Juga kita sebut ashlu untuk akar pohon yang akhirnnya bercabang di atasnya. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim: 24)

 

Mengenal Allah, Islam, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pertama: Mengenal Rabb kita Allah, yaitu mengenalnya sebagaimana terdapat dalam Alquran, dan lewat lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengenalnya berarti mengenal keesaan Allah, juga mengenal nama dan sifat-Nya. Inilah landasan pokok dari landasan lainnya. Kita wajib mengenal Allah sehingga kita bisa menyembah Allah di atas bashirah (bukti) dan keyakinan.

Kedua: Mengenal dinul Islam, yaitu kita beribadah kepada Allah lewat syariat Islam, dengan menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

Ketiga: Mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau adalah wasithah (perantara) antara kita dan Allah. Kita tidak bisa beribadah kepada Allah dengan baik melainkan melalui syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lihat bahasan dalam Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 25.

 

Moga kita mudah menjawab tiga pertanyaan kubur

Siapa yang mengenal tiga landasan (mengenal Allah, agama, dan nabinya) lalu mengamalkan konsekuensinya, maka ia akan dimudahkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaan kubur. Sebagaimana ayat yang disebutkan sebelumnya,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُالظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi.

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir disebutkan riwayat-riwayat untuk menerangkan surah Ibrahim ayat 27.

Imam Bukhari rahimahullah membawakan riwayat dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي القَبْرِ، شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ }

Seorang muslim jika ditanya dalam kubur, ia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Itulah yang Allah katakan, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (HR. Bukhari, no. 4699 dan Muslim, no. 2871)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata mengenai firman Allah (yang artinya), “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau bersabda,

ذَاكَ إِذَا قِيْلَ لَهُ فِي القَبْرِ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِيْنُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟  فَيَقُوْلُ: رَبِّيَ اللهُ، وَدِيْنِي الإِسْلاَمُ، وَنَبِيِّيْ مُحَمَّدٌ، جَاءَنَا بِالبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَيُقَالُ لَهُ: صَدَقْتَ، عَلَى هَذَا عِشْتَ، وَعَلَيْهِ مِتَّ، وَعَلَيْهِ تَبْعَثُ

Jika ditanyakan dalam kubur, siapa Rabbmu, apa agamamu, siapa nabimu. Ia akan mengatakan, “Rabbku Allah, agamaku Islam, Nabiku Muhammad. Datang kepada kami penjelasan dari sisi Allah. Aku mengimani dan membenarkannya. Maka ada yang mengatakan padanya, “Kamu benar. Dengan hal ini engkau hidup, engkau mati, dan engkau dibangkitkan pada hari kiamat.” (Dikeluarkan oleh Ath-Thabary dari jalur Adam bin Abu Iyas, dari Hamad bin Salamah dengannya dengan sanad yang hasan. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:615)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ.

وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata, “Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?” Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia, “Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata, “Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu.” Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, dan dikatakan, “Tidurlah.” Dia menjawab, “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku.” Keduanya berkata, “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut.”

Apabila yang meninggal adalah orang munafik, ia menjawab, “Aku mendengar orang mengatakan aku pun mengikutinya dan saya tidak tahu.” Keduanya berkata, “Kami berdua sudah mengetahui bahwa kamu dahulu mengatakan itu.” Dikatakan kepada bumi, “Himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut.” (HR. Tirmidzi, no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

 

Ada metode mengajar yang bagus diajarkan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mengajarkan metode yang bagus dalam mengajarkan ilmu:

  1. Metode tanya jawab, dan ini sudah diajarkan pula oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Menyebutkan global, kemudian datangkan rincian.

Ini kesimpulan dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 55 dan 56.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk semakin mengenal Allah, Islam, dan Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi:

  • Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan Tahun 1429 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-Hambali An-Najdi. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd.
  • Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  • Zaad Al-Masiir fii ‘Ilmi At-Tafsir. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurosyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.

 

 


 

Diselesaikan di perjalan ke RS JIH, 27 Januari 2020, 2 Jumats Tsaniyyah 1441 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *